Kenapa Selalu “Nggrangsang”?

Sudah dua bulan lamanya Pincuk tinggal di Ibu Kota bersama teman-temannya dari berbagai pelosok negeri ini. Suasana Jakarta yang jauh berbeda dengan kampung halamannya membuat dia merasa kurang nyaman. Mulai dari cara bergaul sampai lokasi tempat tinggal yang jepit-jepitan. Sungguh tempat yang luar biasa untuk belajar dari kehidupan orang-orang sekitar yang mayoritas perantauan.

“Rek, aku lama-lama gak betah tinggal disini.” Kata Ngadimin

Lha emangnya kenapa kok gak krasan tho Min? Uangmu sudah habis? Atau kangen ibumu ning kampung?” Kata Pincuk

“Gak Ncuk, aku cuman ngilu dan sedih melihat kondisiku ditempat yang baru ini. Tambah kurus, mbladus, seperti orang yang gak keurus. Rasa-rasanya pengen segera lari kembali ke kampung halaman.”

“Wis Min, jangan dipikir dalam-dalam. Nanti kamu malah jadi sakit dan kalau orang tuamu sampai tahu, kasihan. Kita harus tetap disini, sampai semua proses pendidikan ini selesai. Lha sekarang sudah makan belum?”

“Sudah Ncuk.. Aku terkadang bingung hidup disini yang katanya orang-orang menjanjikan hal-hal yang wah. Namun apa yang sekarang aku alami? Masih jauh dari harapanku.”

Sedulurku Ngadimin, tak kandani. Kita itu di Jakarta kurang tepat jika mengatakan untuk mencari uang. Kita disini hanya belajar, bukan untuk mendapatkan ijazah. Sekarang kita jalani dulu proses ini, dan syukuri setiap langkahnya.”

“Omonganmu enak dan adem banget Ncuk. Tapi apa itu benar? Aku setiap hari makarya tanpa mengenal lelah, ngebut, hanya ingin mendapatkan gelar akademis dan  pulang membawa sebongkah berlian. Tapi, apa aku sudah hidup berkecukupan? Boro-boro beli motor sport, motor bebek aja belum punya.”

“Min, kamu ke Jakarta kan juga atas keinginan dan do’amu sendiri semenjak masih duduk di SMA. Sekarang aku mau tanya, siapa yang memberikan rezeki? Siapa yang memberikan kebahagiaan? Siapa yang memberikan gelar sebenarnya? Siapa yang mengangkat kehidupan yang sebenarnya? Jawabannya cuman satu. Allah SWT.”

Kenapa kita selalu nggrangsang? Merasa selalu kurang dengan yang telah diberikan oleh Tuhan. Minta satu sudah diberi, namun minta tambahan satu lagi. Setelah dikasih satu lagi, minta tambah satu lagi tanpa bersikap “Terima kasih Tuhanku”. Ibarat ada seorang anak yang meminta sesuatu kepada ayahnya secara terus menerus, tapi lupa menghormati dan menyayangi ayahnya serta malah sibuk sendiri dengan apa yang telah diberikan. Maka sang ayah pun apabila anaknya meminta lagi, dia akan berpikir ulang, apakah akan memberi atau tidak. Kurang tepat, jika kita mendekat disaat akan membutuhkannya saja yang tidak lebih hanyalah seperti penjilat.

“Didalam setiap do’a selalu meminta, namun kita lupa untuk berterima kasih dan berbagi kepada yang lain. Semuanya tidak lebih hanyalah titipan. Sehingga jika suatu saat akan diminta kembali oleh pemiliknya, ikhlaskan. Namun, ikhlas atau tidak ikhlas, semua pasti akan kembali” (Aa)
Ali Arifin
Jakarta, 05 Desember 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s